283.270 Orang Terserang ISPA akibat Karhutla, Balita dan Lansia Paling Berisiko

KLIK FAKTA


Sebanyak 283.270 orang di tujuh provinsi terserang Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) selama periode 18 Agustus hingga 13 Oktober 2026. Angka itu disampaikan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) di tengah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menurunkan kualitas udara di sejumlah wilayah.

Data tersebut disampaikan Direktur Kesehatan Lingkungan Kemenkes RI, Then Suyanti, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Jakarta, Rabu (14/10/2026). Ratusan ribu kasus itu tercatat di 63 kabupaten/kota yang terdampak karhutla.

Rinciannya: 219.559 penderita berusia di atas lima tahun, dan 63.711 kasus dialami anak-anak berusia di bawah lima tahun.



Tren Kasus Terus Naik

Sehari sebelumnya, angka yang dicatat Kemenkes hingga 12 Oktober 2026 adalah 277.075 kasus, dengan 62.400 di antaranya — 22,5 persen — dialami anak usia 0 sampai 5 tahun. Artinya, dalam sehari tercatat pertambahan ribuan kasus baru.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman menyebut data tersebut terus dipantau untuk mengantisipasi kenaikan kasus sekaligus memperkuat penanganan kesehatan di wilayah terdampak.




Kalimantan Selatan dan Sumsel Tertinggi

Kalimantan Selatan menjadi provinsi dengan penderita ISPA terbanyak: 74.636 kasus. Disusul Sumatra Selatan dengan 74.458 kasus.

Kemenkes juga menyoroti 12 kabupaten/kota dengan kualitas udara kategori berbahaya: enam wilayah di Kalimantan Tengah, satu di Kalimantan Selatan, dua di Jambi, dua di Sulawesi Selatan, dan satu di Riau. Sembilan dari 12 wilayah itu bahkan masuk kategori sangat tidak sehat.

Direktur Perlindungan dan Pengelolaan Mutu Udara Kementerian Lingkungan Hidup Nikson Pakpahan menambahkan, seluruh wilayah Kalimantan Tengah yang dipantau berada dalam kategori berbahaya untuk parameter PM2.5. Mayoritas wilayah Kalimantan Barat juga tidak sehat hingga berbahaya, sementara Riau dan Jambi dilaporkan sangat tidak sehat.

Siapa yang Paling Berisiko

Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 dan zat berbahaya lain yang dapat memicu ISPA, batuk, sesak napas, serta memperburuk asma. Menurut Kemenkes, bayi, balita, ibu hamil, lansia, dan penderita penyakit paru kronis termasuk kelompok paling rentan.

Kekhawatiran itu beralasan. Lebih dari seperlima total kasus menyerang balita. Dokumentasi perawatan pasien anak di RSUD BARI Palembang, Sumatra Selatan, menunjukkan betapa nyatanya dampak kabut asap bagi keluarga di wilayah terdampak.



Apa yang Bisa Dilakukan

Kemenkes telah memobilisasi 2.106 tenaga medis dan tenaga kesehatan serta mendistribusikan lebih dari 2,8 juta masker ke wilayah terdampak. Pemerintah juga berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta Kementerian Agama untuk menerapkan pembelajaran jarak jauh di daerah terdampak polusi udara.

Bagi masyarakat, Aji mengimbau untuk membatasi kegiatan di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Bila harus keluar rumah, gunakan respirator N95 atau KN95 yang terpasang rapat. Jika tidak tersedia, masker medis atau masker kain dapat dipakai berlapis. Namun untuk bayi dan balita, perlindungannya bukan dari masker, melainkan dengan mengurangi paparan asap.

Ia juga mengingatkan agar segera membawa anak ke fasilitas kesehatan bila mengalami sesak napas, napas cepat, atau kesulitan menyusu dan minum. Penggunaan nebulizer, tegasnya, harus berdasarkan indikasi dan petunjuk tenaga medis — bukan dilakukan sendiri tanpa arahan.

Di luar dampak fisik, paparan kabut asap berkepanjangan juga berpotensi memengaruhi kesehatan mental. Gangguan aktivitas sosial, ekonomi, pendidikan, dan pekerjaan dapat memicu stres serta kecemasan. Masyarakat diimbau menjaga rutinitas, memastikan anak tetap beraktivitas di dalam ruangan yang udaranya lebih bersih, dan memperhatikan perubahan perilaku, gangguan tidur, atau perubahan pola makan pada anak. Bila keluhan menetap dan mengganggu keseharian, segera konsultasikan ke tenaga medis.

Kabut asap karhutla belum menunjukkan tanda mereda. Selama api masih menyala, angka ISPA berpotensi terus bertambah — dan kewaspadaan setiap keluarga di wilayah terdampak menjadi pertahanan pertama.

Posting Komentar