Indonesia resmi masuk jajaran negara paling rajin memakai kecerdasan buatan (AI) di dunia. Laporan Digital 2027 yang dirilis We Are Social dan Meltwater pada 5 November 2026 mencatat 94,9 persen pengguna internet berusia 16 tahun ke atas di Indonesia telah menggunakan perangkat AI dalam satu bulan terakhir.

Angka adopsi AI Indonesia itu menempatkan Indonesia di posisi keempat tertinggi di antara negara-negara yang diteliti — hanya di bawah Kenya (97,3 persen), Nigeria (96,6 persen), dan Uni Emirat Arab (95,7 persen), serta sedikit di atas Filipina (94,4 persen). Tapi ada satu angka lain yang tidak kalah penting: hanya 28,3 persen responden Indonesia yang menyatakan nyaman menggunakan teknologi ini.

Sekelompok orang menggunakan ponsel pintar

94,9 persen sudah pakai, untuk apa saja?

Adopsi yang tinggi ini sejalan dengan besarnya populasi digital Indonesia. Laporan yang sama mencatat 231 juta penduduk Indonesia telah menggunakan internet, atau setara 80,2 persen dari total populasi.

Penggunaan AI paling banyak mengarah ke aktivitas kreatif: 43,7 persen pengguna AI di Indonesia memanfaatkannya untuk membuat atau menyempurnakan gambar dan video. Layanan seperti ChatGPT dan Google Gemini juga terus naik daun — masing-masing telah digunakan oleh hampir separuh pengguna internet di Indonesia.

Skala globalnya pun besar. Laporan Digital 2027 sebelumnya mencatat pengguna AI generatif dunia menembus 3,24 miliar orang. Baca juga: Pengguna AI Generatif Tembus 3,24 Miliar: Apa Artinya?

Yakin bermanfaat, tapi belum nyaman

Di sinilah letak paradoksnya. Sebanyak 47,2 persen pengguna internet di Indonesia meyakini AI memberikan manfaat bagi masyarakat — persentase tertinggi di antara negara-negara dalam laporan. Keyakinan terhadap manfaatnya tinggi. Kenyamanannya yang rendah.

Hanya 28,3 persen responden yang menyatakan nyaman menggunakan AI. Angka ini bahkan berada di bawah rata-rata global sebesar 33 persen. Ada kesenjangan yang lebar antara memakai, meyakini manfaatnya, dan merasa nyaman.

"Secara keseluruhan, kita melihat masyarakat Indonesia telah menjadikan teknologi digital sebagai bagian dari keseharian, meski kepercayaan terhadap teknologi tersebut masih terus berkembang," kata Mimrah Mahmood, APAC Vice President of Enterprise Sales Meltwater.

Kesenjangan ini bukan hal sepele. Orang bisa memakai AI setiap hari karena kebutuhan — menyelesaikan tugas, membuat gambar, mencari jawaban cepat — sambil tetap ragu soal akurasi hasilnya, soal privasi datanya, atau soal apakah pekerjaannya akan tergantikan.

Tangan robot kecerdasan buatan menyentuh tangan manusia

Media sosial tetap jadi arena utama

Laporan Digital 2027 juga memotret sisi lain kehidupan digital Indonesia. Tercatat 240 juta identitas pengguna media sosial, setara 83,2 persen dari total populasi. Pengguna internet berusia 16 tahun ke atas memakai rata-rata 7,5 platform media sosial setiap bulan — menempatkan Indonesia di posisi kedelapan tertinggi di antara negara-negara yang diteliti.

WhatsApp menjadi aplikasi komunikasi yang paling banyak digunakan: 92,7 persen pengguna internet tercatat menggunakannya. Intensitasnya pun paling tinggi di dunia — pengguna aktif menghabiskan rata-rata 1 jam 55 menit setiap hari di WhatsApp.

Media sosial juga memengaruhi keputusan belanja. Sebanyak 60 persen pengguna internet di Indonesia mengandalkan jejaring sosial untuk mencari informasi mengenai merek atau produk sebelum membeli.

Apa yang perlu dikejar: literasi, bukan sekadar adopsi

Angka-angka ini memberi pesan yang jelas buat pemerintah dan industri. Adopsi sudah bukan masalah — Indonesia sudah termasuk yang tercepat di dunia. Masalahnya ada di kepercayaan dan kenyamanan.

Pemerintah sendiri sudah bergerak ke arah itu. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria sebelumnya menantang setiap instansi pemerintah untuk memangkas waktu layanan dari hitungan minggu menjadi hitungan hari dengan bantuan AI sebelum akhir kuartal IV 2026, dan menekankan keberhasilan AI harus diukur dari manfaat konkret, bukan kecanggihan modelnya. Baca juga: AI Sudah Siap, Birokrasi Kapan? Wamenkomdigi Tantang Instansi Pangkas Urusan Berminggu-minggu Jadi Hitungan Hari.

Buat pengguna sehari-hari, pelajarannya sederhana: AI sudah jadi alat kerja, bukan lagi barang baru. Yang perlu diasah sekarang adalah kemampuan menilai hasilnya — kapan jawaban AI bisa dipercaya, kapan harus dicek ulang, dan data apa yang sebaiknya tidak dibagikan ke chatbot.

Anak muda Indonesia memakai ponsel pintar

FAQ

Berapa persen orang Indonesia yang memakai AI?

94,9 persen pengguna internet berusia 16 tahun ke atas telah menggunakan perangkat AI dalam satu bulan terakhir, menurut laporan Digital 2027 (We Are Social dan Meltwater).

Indonesia peringkat berapa dalam adopsi AI dunia?

Peringkat keempat tertinggi, di bawah Kenya, Nigeria, dan Uni Emirat Arab, serta di atas Filipina.

Mengapa kenyamanan pengguna AI di Indonesia rendah?

Laporan tidak merinci penyebabnya, tapi kesenjangan antara adopsi tinggi (94,9 persen) dan kenyamanan rendah (28,3 persen) menunjukkan kepercayaan terhadap teknologi ini masih berkembang — soal akurasi, privasi, dan dampak ke pekerjaan.

AI dipakai untuk apa saja di Indonesia?

Paling banyak untuk membuat atau menyempurnakan gambar dan video (43,7 persen pengguna AI). ChatGPT dan Google Gemini masing-masing dipakai hampir separuh pengguna internet.

Sumber: ValidNews (5 November 2026), laporan Digital 2027 oleh We Are Social dan Meltwater (5 November 2026). Artikel ini dipublikasikan 6 November 2026.