Sepekan sudah banjir Aceh Selatan merendam Kecamatan Trumon Tengah, dan situasinya belum benar-benar pulih. Data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Selatan mencatat 218 kepala keluarga atau 756 jiwa terdampak. Sebanyak 43 kepala keluarga atau 161 jiwa masih mengungsi. Status tanggap darurat bencana yang ditetapkan pemerintah kabupaten berlaku hingga 12 November 2026.

Yang membuat warga resah bukan cuma genangan yang belum surut, melainkan tanggul Sungai Lae Soeraya sepanjang 210 meter yang roboh. Selama tanggul itu belum dibangun kembali, satu hujan deras saja bisa mengirim air kembali ke permukiman. Dan BMKG justru memasukkan Aceh dalam kategori siaga hujan lebat hingga sangat lebat pada 6–9 November.

Permukiman yang terendam banjir

Kronologi sepekan banjir Trumon Tengah

Jumat, 30 Oktober 2026. Hujan berintensitas tinggi mengguyur Aceh Selatan. Sungai Lae Soeraya dan Krueng Trumon Raya meluap, menggenangi Gampong Cot Bayu dan Gampong Lhok Raya di Kecamatan Trumon Tengah dengan ketinggian air 30 hingga 60 sentimeter. BPBD mencatat 232 jiwa terdampak; 112 warga dari 30 kepala keluarga mengungsi ke Kompi Brimob dan rumah kerabat, sementara 120 orang lainnya bertahan di rumah masing-masing.

Sabtu, 31 Oktober 2026. Bupati Aceh Selatan, Mirwan MS, menetapkan status tanggap darurat bencana banjir dan tanah longsor selama 14 hari melalui Keputusan Bupati Nomor 72 Tahun 2026. Keputusan diambil setelah bupati meninjau langsung sejumlah titik terdampak dan menerima laporan dari instansi penanggulangan bencana.

Minggu, 1 November 2026. Banjir memasuki hari kelima dan datanya membesar. Hingga pukul 11.50 WIB, BPBD mencatat 218 kepala keluarga atau 756 jiwa terdampak di Kecamatan Trumon dan Trumon Tengah. Sebanyak 43 kepala keluarga atau 161 jiwa mengungsi. Gampong Lhok Raya menjadi wilayah terdampak paling parah: 159 kepala keluarga atau 560 jiwa terdampak, dengan 37 kepala keluarga atau 124 jiwa mengungsi ke Kompi C Brimob. Di Gampong Cot Bayu, 38 kepala keluarga atau 114 jiwa terdampak dan 6 kepala keluarga atau 37 jiwa mengungsi.

Senin, 2 November 2026. Ketua Tim Penggerak PKK Aceh Selatan, Nafisah Mirwan, mengunjungi korban banjir dan menyerahkan bantuan sembako di Posko Siaga Bencana Kecamatan Trumon Tengah. Tim gabungan dari SAR, TNI, Polri, BPBD, dan pemerintah kecamatan terus memantau dan melayani warga di posko.

Genangan banjir di kawasan permukiman

Tanggul 210 meter yang roboh jadi akar masalah

Menurut Keuchik atau Kepala Desa Lhok Raya, Rasi Riadi, banjir terjadi setelah tanggul Sungai Lae Soeraya roboh. Air sungai meluap dan langsung menggenangi rumah-rumah penduduk. Warga memilih mengungsi bukan hanya karena rumah terendam, melainkan karena khawatir banjir susulan selama tanggul belum diperbaiki.

"Kami berharap Pemkab Aceh Selatan membangun kembali tanggul sepanjang 210 meter yang roboh. Tanggul roboh tersebut menyebabkan pemukiman penduduk tergenang air dari Sungai Lae Soeraya," kata Rasi Riadi, seperti dikutip sejumlah media lokal.

Harapan itu masuk akal. Tanggul adalah satu-satunya penghalang antara sungai dan permukiman di Lhok Raya. Tanpa tanggul, air tidak butuh hujan yang luar biasa besar untuk kembali masuk ke rumah warga. Perbaikan tanggul, karena itu, bukan sekadar pekerjaan pascabencana, melainkan pencegahan banjir berikutnya.

BMKG: Aceh siaga hujan lebat 6–9 November

Prakiraan BMKG untuk periode 6–9 November 2026 menempatkan Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat dalam kategori siaga terhadap potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Untuk periode 6–8 November, Aceh juga masuk kategori siaga dalam prakiraan sepekan BMKG 6–12 November. Artinya, hujan dengan intensitas yang cukup untuk memicu banjir susulan masih mungkin terjadi selama masa tanggap darurat ini.

BMKG mengingatkan masyarakat untuk memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi, seperti situs BMKG dan aplikasi InfoBMKG, dan mewaspadai banjir, tanah longsor, serta pohon tumbang. Warga di sekitar aliran Sungai Lae Soeraya dan Krueng Trumon Raya termasuk yang paling perlu waspada.

Warga berjalan melewati genangan banjir

Yang sudah berjalan dan yang masih ditunggu

Penanganan di lapangan terus berjalan: posko siaga bencana di Trumon Tengah melayani pengungsi, bantuan sembako sudah disalurkan, dan tim gabungan tetap siaga. Status tanggap darurat hingga 12 November memberi pemerintah kabupaten ruang untuk mempercepat penanganan dan mengantisipasi dampak yang bertambah.

Namun bagi warga Lhok Raya dan Cot Bayu, ukuran pemulihan yang sebenarnya sederhana: tanggul dibangun kembali, dan mereka bisa pulang tanpa takut hujan berikutnya. Sampai dua hal itu terjadi, 161 jiwa yang mengungsi masih menunggu kepastian yang sama seperti seminggu lalu.

Perkembangan banjir di daerah lain bisa dibaca di artikel kami sebelumnya: Trenggalek diterjang 9 bencana dan BMKG waspada 21 daerah di Jawa Timur, serta peringatan BMKG soal gelombang tinggi 4 meter.

FAQ: Banjir Aceh Selatan

Sampai kapan status tanggap darurat banjir Aceh Selatan berlaku?

Selama 14 hari, mulai 30 Oktober hingga 12 November 2026, berdasarkan Keputusan Bupati Aceh Selatan Nomor 72 Tahun 2026.

Berapa warga yang terdampak banjir di Trumon Tengah?

Data BPBD Aceh Selatan per 1 November 2026: 218 kepala keluarga atau 756 jiwa terdampak, dengan 43 kepala keluarga atau 161 jiwa mengungsi. Data awal 30 Oktober mencatat 232 jiwa terdampak dan 112 jiwa mengungsi.

Apa penyebab banjir di Aceh Selatan?

Hujan berintensitas tinggi membuat Sungai Lae Soeraya dan Krueng Trumon Raya meluap. Robohnya tanggul Sungai Lae Soeraya sepanjang 210 meter memperbesar genangan yang masuk ke permukiman Gampong Lhok Raya dan Gampong Cot Bayu.

Sumber: Aktualita.co (mengutip ANTARA dan BPBD Aceh Selatan), Larasnews, Seputar Sambas (prakiraan BMKG 6–12 November 2026). Artikel ini terbit 6 November 2026.