Perang melawan tuberkulosis (TBC) di Indonesia memasuki babak baru. Kementerian Kesehatan menemukan tiga karakteristik genom TBC berdasarkan wilayah Indonesia, dari penelitian terhadap 7.000 pasien di berbagai daerah.
Temuan itu disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam forum The 40th Stop TB Partnership Board Meeting 2026 di Kabupaten Badung, Bali, Kamis (5/11). Penelitian tersebut dilakukan dengan dukungan pendanaan Global Fund, serta melibatkan teknologi pengurutan genom dari Illumina dan Oxford Nanopore.
Tiga varian, tiga wilayah
Hasil penelitian menunjukkan tiga karakteristik genom TBC berdasarkan wilayah geografis: Indonesia Barat, Indonesia Tengah, dan Indonesia Timur. "Tiga varian berbeda, yakni varian Indonesia bagian barat, Indonesia bagian tengah, dan Indonesia bagian timur," kata Budi seperti dikutip dari Antara.
Kenapa temuan ini penting? Karena perbedaan genom bisa memengaruhi cara bakteri TBC merespons pengobatan, serta pengembangan vaksin di masa depan. Dengan peta genom yang lebih jelas, pengobatan dan pencegahan bisa disesuaikan dengan karakteristik bakteri yang beredar di tiap wilayah.
Indonesia saat ini juga terlibat dalam uji klinis fase ketiga vaksin TBC M72 bersama sejumlah negara lainnya. Vaksin ini digadang-gadang sebagai harapan baru, mengingat vaksin BCG yang dipakai selama ini punya keterbatasan perlindungan pada orang dewasa.
Angka yang masih mengkhawatirkan
Dalam forum yang sama, Budi juga menyoroti tingginya angka kematian akibat TBC di Indonesia yang mencapai 136.000 orang. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah insiden TBC tertinggi kedua di dunia setelah India.
Artinya, meski berbagai program sudah berjalan, TBC masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat yang serius. Deteksi dini menjadi kunci: semakin cepat ditemukan, semakin besar peluang sembuh dan semakin kecil risiko penularan ke orang lain.
50 rontgen portabel AI dari Amerika Serikat
Bersamaan dengan kabar genom tersebut, datang bantuan konkret untuk deteksi dini. Amerika Serikat menghibahkan 50 unit perangkat rontgen dada digital ultra-portabel kepada Pemerintah Indonesia. Perangkat ini dilengkapi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mempercepat identifikasi indikasi penyakit TBC.
Prosesi penyerahan berlangsung di Jakarta pada Minggu (2/11/2026), disaksikan Pejabat Senior Biro Keamanan dan Diplomasi Kesehatan Global Departemen Luar Negeri AS Jeff Graham serta Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin. Seluruh perangkat dijadwalkan tiba di Indonesia pada Rabu (4/11/2026).
Perangkat yang diberikan menggunakan produk Impact-Global Digital X-Ray Kits buatan perusahaan AS, MinXray, Inc. Setelah tiba, Kementerian Kesehatan bertanggung jawab mengatur penempatan dan penyaluran ke sejumlah fasilitas kesehatan, dengan distribusi diarahkan ke berbagai wilayah prioritas penanganan TBC di seluruh Indonesia.
Keunggulan perangkat portabel ini jelas: pemeriksaan bisa menjangkau wilayah terpencil yang selama ini sulit diakses mesin rontgen besar. Dipadukan dengan AI, proses skrining awal bisa lebih cepat, sehingga pasien yang terindikasi TBC dapat segera dirujuk untuk pemeriksaan lanjutan.
Baca juga: Pencegahan TBC Jakarta Naik 26 Persen, Ini Artinya
FAQ
Apa temuan baru Kemenkes soal TBC?
Tiga karakteristik genom TBC berdasarkan wilayah: Indonesia Barat, Tengah, dan Timur, dari penelitian terhadap 7.000 pasien.
Berapa angka kematian akibat TBC di Indonesia?
Mencapai 136.000 orang, dengan insiden TBC tertinggi kedua di dunia setelah India, menurut data yang disampaikan Menkes.
Apa isi hibah rontgen dari AS?
Sebanyak 50 unit rontgen dada digital ultra-portabel berbasis AI (MinXray Impact-Global Digital X-Ray Kits) untuk memperluas deteksi dini TBC hingga wilayah terpencil.
Sumber: Validnews; Antara; Koridor.co.id; Investor Daily. Diakses 5 November 2026.





