Jawabannya singkat: tidak. Minum air es bikin gemuk adalah mitos yang masih sering dipercaya, padahal air putih dingin mengandung nol kalori. Sesuatu yang tidak mengandung kalori tidak bisa diubah tubuh menjadi jaringan lemak, apa pun suhunya.
Larangan minum air es biasanya dibumbui cerita yang terdengar masuk akal: lemak dari makanan membeku di perut, lalu menumpuk dan membuat perut buncit. Kedengarannya logis, tapi tubuh manusia bukan kulkas. Suhu inti tubuh dijaga ketat di kisaran 36,5 sampai 37,5 derajat Celsius, dan air dingin yang masuk lambung segera dihangatkan hingga menyamai suhu tubuh sebelum lemak sempat dicerna enzim pencernaan.
Dari mana mitos ini berasal?
Mitos air es bikin gemuk hidup karena dua hal yang sering terjadi bersamaan. Pertama, orang biasanya minum air es bersama makanan berkalori tinggi: gorengan, nasi padang, mi instan, atau camilan manis. Kedua, perut terasa kembung setelah minum banyak air dingin saat makan. Yang disalahkan kemudian adalah esnya, bukan makanannya.
Padahal rasa kembung itu lebih mungkin berasal dari volume air yang mengisi lambung, atau udara yang tertelan saat minum terlalu cepat. Bukan dari lemak baru yang terbentuk. Berat badan naik hanya bila kalori yang masuk lebih besar daripada kalori yang dibakar, dan air putih murni tidak menyumbang satu kalori pun ke hitungan itu.
Yang sebenarnya terjadi di dalam tubuh
Saat air dingin masuk, tubuh justru harus bekerja sedikit lebih keras untuk menghangatkan air tersebut hingga mencapai suhu tubuh. Proses ini disebut termogenesis. Menurut penjelasan yang dikutip Halodoc, efeknya memang kecil, hanya sekitar 5 sampai 10 kalori per gelas, tapi arahnya jelas berlawanan dengan mitos: minum air dingin justru membakar sedikit kalori, bukan menambah lemak.
Sebuah studi yang diterbitkan di The Journal of Clinical Endocrinology & Metabolism dan dikutip Halodoc juga mencatat, minum sekitar 500 ml air dapat meningkatkan laju metabolisme hingga sekitar 30 persen untuk sementara waktu. Angka itu berlaku untuk air secara umum, bukan khusus air es, dan efeknya bersifat sementara. Intinya tetap sama: hidrasi yang cukup membantu metabolisme bekerja, bukan menghambatnya.
Kalau bukan esnya, lalu apa yang bikin gemuk?
Tersangkanya adalah isi gelasnya, bukan suhunya. Es teh manis dengan empat sendok gula, soda kaleng, kopi susu kekinian dengan kental manis, dan minuman boba sama-sama disajikan dingin, dan semuanya tinggi kalori. Minum segelas es teh manis setiap hari selama berminggu-minggu jelas menambah asupan kalori. Es batunya tidak bersalah.
Hal yang sama berlaku untuk makanan pendampingnya. Air es sering menemani makanan cepat saji dan camilan manis, sehingga kenaikan berat badan yang terjadi bersamaan dengan kebiasaan minum es mudah disalahartikan sebagai sebab-akibat. Ini pola klasik: dua hal yang sering muncul bersamaan dianggap saling menyebabkan, padahal keduanya hanya kebetulan hadir di momen yang sama.
Mitos lain soal air es yang perlu diluruskan
Air es menyebabkan radang tenggorokan. Radang tenggorokan umumnya disebabkan infeksi virus atau bakteri, bukan suhu air. Air es tidak mengandung patogen penyebab radang. Tenggorokan yang terasa tidak nyaman setelah minum es lebih sering berkaitan dengan kondisi lain, misalnya udara kering atau infeksi yang memang sedang berkembang.
Air dingin lebih buruk dari air suhu ruang. Untuk kebanyakan orang sehat, keduanya sama-sama baik untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh. Yang jauh lebih penting adalah apakah seseorang benar-benar minum dalam jumlah cukup setiap hari. Bahkan dalam dunia kedokteran olahraga, cairan dingin justru dianjurkan saat berolahraga di cuaca panas karena membantu menurunkan suhu tubuh.
Air es berbahaya setelah olahraga. Sebaliknya, riset yang dirangkum dalam sejumlah publikasi medis menunjukkan konsumsi air dingin selama latihan dapat membantu menunda penurunan performa atlet di lingkungan panas. Minum perlahan tetap lebih nyaman daripada meneguk sekaligus, tapi suhunya bukan masalah.
Kapan air es memang perlu diwaspadai?
Ada beberapa kondisi ketika air es memang kurang cocok, dan ini penting dibedakan dari mitos di atas. Orang dengan gigi sensitif bisa merasa ngilu. Penderita migrain tertentu melaporkan minuman sangat dingin memicu sakit kepala. Sebagian orang dengan gangguan pencernaan juga merasa lebih nyaman dengan air suhu ruang. Ini soal kenyamanan dan kondisi masing-masing, bukan soal berat badan.
Kalau berat badan terus naik padahal pola makan sudah diatur dan olahraga rutin, penyebabnya mungkin kondisi medis seperti gangguan tiroid atau resistensi insulin. Dalam situasi itu, konsultasi ke dokter jauh lebih berguna daripada berhenti minum air es.
FAQ: Minum Air Es dan Berat Badan
Apakah minum air es bikin gemuk?
Tidak. Air putih dingin mengandung nol kalori, sehingga tidak bisa menambah lemak tubuh. Berat badan naik karena surplus kalori dari makanan dan minuman berkalori, bukan karena suhu air.
Benarkah air es membekukan lemak di perut?
Tidak benar. Suhu inti tubuh sekitar 37 derajat Celsius segera menghangatkan air dingin yang masuk lambung. Lemak disimpan dalam sel adiposa dan tidak terpengaruh suhu air minum.
Kenapa perut terasa buncit setelah minum air es?
Kemungkinan besar karena volume air yang mengisi lambung atau udara yang tertelan saat minum terlalu cepat, bukan karena lemak baru. Sensasinya sementara dan hilang setelah air dicerna.
Minuman dingin apa yang benar-benar bikin gemuk?
Minuman dingin manis: es teh bergula, soda, kopi susu dengan kental manis, dan minuman boba. Kalorinya berasal dari gula dan topping, bukan dari es batunya.
Apakah air es aman diminum setiap hari?
Aman untuk kebanyakan orang sehat. Pengecualian berlaku bagi yang punya gigi sensitif, migrain yang dipicu dingin, atau gangguan pencernaan tertentu. Bila ragu, konsultasikan dengan dokter.
Sumber: Halodoc, "Air Dingin Bikin Gemuk? Ternyata Ini Fakta Sebenarnya!"; Alodokter, "Minum Air Es Bikin Gemuk, Benarkah?". Artikel ini bersifat edukasi kesehatan umum dan bukan pengganti saran medis profesional.




